Menulis Novel Remaja Drama Ringan
Budget / Salary$30–250
TypeFreelance project
LocationRemote
Posted1 hour ago
Genre: Romansa Remaja, Slice of Life, Drama Ringan
Satu Bangku di Dekat Jendela
Pagi Senin selalu punya cara sendiri untuk membuat siswa malas datang ke sekolah. Begitu pula dengan Raka.
Ia berjalan melewati gerbang sekolah sambil menguap, satu tangan memegang tali tas, sementara tangan lainnya menggenggam roti yang belum sempat ia habiskan.
“Rak!”
Raka menoleh. Dimas, sahabatnya, berlari kecil dari arah parkiran.
“Tumben nggak telat,” kata Dimas.
“Karena gue bangun lebih pagi.”
“Jam berapa?”
“Lima.”
Dimas terdiam.
“Lima pagi?”
Raka mengangguk bangga.
“Jam lima sore.”
“Dasar.”
Mereka tertawa dan berjalan menuju kelas.
Kelas XI TKJ 2 sudah cukup ramai. Beberapa siswa sibuk mengobrol, sebagian mengerjakan tugas yang baru akan dikumpulkan, sementara yang lain masih menikmati waktu sebelum guru datang.
Raka langsung menuju tempat duduknya di dekat jendela.
Namun, ada seseorang yang sudah duduk di sana.
Seorang siswi bernama Naya.
Naya adalah salah satu murid yang cukup dikenal di kelas. Bukan karena ia paling ramai, justru sebaliknya. Ia sering duduk tenang sambil membaca buku atau mengerjakan tugas.
“Eh, ini tempat duduk gue,” kata Raka.
Naya menoleh.
“Bukannya kursinya memang kosong?”
“Iya, tapi biasanya gue duduk di sini.”
Naya melihat kursi itu, lalu kembali menatap Raka.
“Berarti sekarang kita duduk bareng.”
Raka terdiam.
“Bareng?”
“Iya. Kan mejanya panjang.”
Dimas yang berdiri di belakang Raka langsung menyenggol bahunya.
“Cie.”
“Diam.”
Naya tertawa kecil.
Sejak hari itu, Raka dan Naya sering duduk bersebelahan.
Awalnya mereka hanya berbicara tentang pelajaran.
“Nomor tiga jawabannya apa?”
“B.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Kalau salah?”
“Ya salah.”
“Terus?”
“Ya jangan salah.”
Raka hanya bisa menggeleng.
Namun, semakin lama, percakapan mereka berkembang menjadi hal-hal kecil lainnya.
Tentang makanan kantin.
Tentang guru yang sering memberikan tugas mendadak.
Tentang film yang sedang ramai dibicarakan.
Bahkan tentang cita-cita.
Suatu siang, saat jam istirahat, mereka duduk di kantin bersama beberapa teman.
Naya membeli es teh, sedangkan Raka membeli mi goreng.
“Lo nanti ikut ekskul apa?” tanya Naya.
“Belum tahu.”
“Katanya mau ikut futsal?”
“Dimas yang bilang.”
“Jadi?”
“Belum tentu.”
Naya tersenyum.
“Kalau aku ikut klub fotografi.”
“Fotografi?”
“Iya. Aku suka foto-foto.”
“Foto gue juga boleh.”
“Kenapa harus kamu?”
“Karena wajah gue cocok jadi model.”
Naya hampir tersedak minumannya.
“Percaya diri banget.”
“Namanya juga usaha.”
Mereka tertawa.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Raka mulai mengikuti latihan futsal, sementara Naya aktif dalam klub fotografi.
Kadang mereka hanya bertemu beberapa menit di koridor.
Kadang Raka melihat Naya membawa kamera melewati lapangan.
Kadang Naya melihat Raka duduk di tribun setelah latihan.
Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya, begitulah yang Raka pikirkan.
Sampai suatu sore, sekolah mengadakan persiapan acara pentas seni.
Setiap kelas harus membuat sebuah penampilan. Kelas Raka memilih pertunjukan musik sederhana.
Raka ditunjuk menjadi salah satu pemain gitar.
Naya mendapat tugas mendokumentasikan seluruh persiapan.
Selama beberapa hari, mereka sering bertemu sepulang sekolah.
Sore itu, hujan turun cukup deras.
Sebagian siswa sudah pulang. Hanya beberapa anggota panitia yang masih berada di sekolah.
Raka sedang membawa beberapa kursi ketika melihat Naya berdiri di depan aula.
“Kok belum pulang?” tanyanya.
“Masih nunggu hujan reda.”
“Bawa payung?”
Naya menggeleng.
Raka melihat payung hitam yang ia bawa.
“Ya udah, nanti bareng.”
Naya tampak ragu.
“Nggak merepotkan?”
“Enggak.”
Mereka akhirnya berjalan berdua menuju gerbang.
Payung Raka sebenarnya tidak terlalu besar. Mereka berjalan cukup dekat agar tidak terkena hujan.
Namun, suasananya terasa canggung.
Raka mencoba mencari topik pembicaraan.
“Besok latihan lagi?”
“Iya.”
“Capek?”
“Lumayan.”
“Kalau capek, istirahat.”
Naya tersenyum.
“Kamu juga.”
Raka mengangguk.
Untuk beberapa saat, mereka hanya berjalan ditemani suara hujan.
Ketika sampai di gerbang, Naya berhenti.
“Makasih, Rak.”
“Iya.”
Naya kemudian berlari kecil menuju kendaraan yang menjemputnya.
Raka berdiri sebentar di tempat.
Entah kenapa, senyum kecil muncul di wajahnya.
“Kenapa gue senyum?” gumamnya.
Dari belakang terdengar suara Dimas.
“Karena jatuh cinta mungkin.”
Raka langsung menoleh.
“Lo dari mana?”
“Dari belakang.”
“Ngapain ngikutin?”
“Memastikan sahabat gue nggak aneh-aneh.”
“Berisik.”
Dimas tertawa.
Namun sejak hari itu, Raka mulai menyadari sesuatu.
Ia mulai menunggu kehadiran Naya.
Ia senang ketika Naya duduk di sebelahnya.
Ia mencari alasan untuk mengobrol.
Dan tanpa sadar, ia sering melihat ke arah pintu kelas setiap pagi.
Sementara itu, Naya juga mulai terbiasa dengan kehadiran Raka.
Namun, keduanya tidak pernah membicarakan perasaan mereka.
Sampai suatu hari terjadi kesalahpahaman.
Pagi itu, Raka melihat Naya sedang berbicara dengan seorang siswa dari kelas lain bernama Ardi.
Mereka tampak akrab.
Ardi bahkan memberikan sebuah hadiah kecil kepada Naya.
Raka hanya melihat dari jauh.
Dimas yang berada di sampingnya berkata, “Kenapa?”
“Enggak.”
“Wajah lo bilang iya.”
Raka mengangkat bahu.
Seharian itu ia menjadi lebih pendiam.
Saat Naya bertanya tentang tugas, jawabannya singkat.
Saat Naya mengajaknya ke kantin, ia menolak.
“Kenapa?” tanya Naya.
“Lagi nggak pengin.”
Naya tampak bingung.
Hari berikutnya sama.
Hari setelahnya juga.
Akhirnya Naya tidak tahan.
Saat jam pulang, ia menghampiri Raka yang sedang membereskan tas.
“Rak.”
“Hm?”
“Aku salah apa?”
Raka berhenti memasukkan buku.
“Enggak.”
“Terus kenapa kamu berubah?”
Raka diam.
Ia sebenarnya ingin menjawab, tetapi merasa malu.
Akhirnya ia berkata, “Kemarin aku lihat kamu sama Ardi.”
Naya mengerutkan kening.
“Terus?”
“Enggak apa-apa.”
“Kalau enggak apa-apa, kenapa jadi begini?”
Raka menghela napas.
“Aku cuma mikir... mungkin kamu lebih suka ngobrol sama dia.”
Naya terdiam beberapa detik.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Ardi itu kakakku.”
Raka membeku.
“...Kakak?”
“Iya. Dia datang buat ngasih aku kamera bekas. Kamera lamanya.”
Raka menatap lantai.
Wajahnya memerah karena malu.
“Oh.”
“Cuma oh?”
“Terus harus gimana?”
Naya tersenyum.
“Ya nggak usah menjauh cuma karena salah paham.”
Raka mengangguk.
“Maaf.”
Naya menerima permintaan maaf itu.
Namun sebelum pergi, ia berkata, “Kalau ada yang bikin kamu kepikiran, tanya langsung. Jangan bikin kesimpulan sendiri.”
Raka tersenyum.
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.”
Beberapa hari kemudian, pentas seni akhirnya tiba.
Aula sekolah dipenuhi siswa. Lampu panggung menyala, musik terdengar, dan setiap kelas menampilkan pertunjukan masing-masing.
Kelas XI TKJ 2 tampil cukup baik.
Raka bermain gitar bersama teman-temannya.
Di sisi panggung, Naya sibuk mengambil foto.
Ketika pertunjukan selesai, Raka turun dari panggung.
Naya menghampirinya sambil membawa kamera.
“Tadi bagus.”
“Serius?”
“Iya.”
“Foto gue bagus?”
“Foto semua orang bagus.”
“Berarti foto gue biasa aja?”
Naya tertawa.
“Kamu tuh.”
Mereka berdiri di belakang aula yang mulai sepi.
Raka melihat beberapa foto hasil jepretan Naya.
Ada foto teman-teman mereka.
Ada foto panggung.
Ada foto guru.
Lalu Raka melihat satu foto dirinya sedang bermain gitar.
“Ini bagus,” katanya.
Naya mengangguk.
“Aku suka yang itu.”
Raka menatap foto tersebut.
“Kenapa?”
“Karena kamu kelihatan senang.”
Raka terdiam.
Kemudian ia tersenyum.
“Aku memang senang.”
“Karena tampil?”
Raka menggeleng pelan.
“Bukan cuma itu.”
Naya menatapnya.
Suasana mendadak terasa lebih tenang.
Raka sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.
Namun, ia tidak tahu bagaimana memulainya.
Akhirnya ia berkata sederhana.
“Nay, makasih ya.”
“Untuk?”
“Udah jadi teman yang baik.”
Naya tersenyum.
“Cuma teman?”
Raka terdiam.
Pertanyaan itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Naya lalu tertawa kecil.
“Bercanda.”
Raka ikut tertawa.
Tapi sebelum mereka berpisah, Raka memberanikan diri berkata,
“Kalau suatu hari aku mau ngajak kamu jalan setelah sekolah... kamu mau?”
Naya tersenyum.
“Mau.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Besok?”
“Besok.”
Raka tersenyum lebar.
“Deal.”
Hari Senin berikutnya, Raka kembali duduk di bangku dekat jendela.
Naya datang beberapa menit kemudian.
“Pagi.”
“Pagi.”
Naya meletakkan tasnya.
“Jadi nanti pulang sekolah?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
“Jangan lupa.”
“Enggak bakal.”
Bel masuk berbunyi.
Guru memasuki kelas dan semua siswa mulai bersiap.
Raka membuka buku pelajaran.
Di sampingnya, Naya juga mulai menulis.
Di luar jendela, matahari pagi menyinari halaman sekolah.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada sesuatu yang luar biasa.
Hanya dua remaja yang perlahan belajar mengenal satu sama lain.
Tentang bagaimana sebuah persahabatan bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih berarti.
Tentang bagaimana salah paham bisa diselesaikan dengan kejujuran.
Dan tentang bagaimana perasaan tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata besar.
Kadang, cukup dengan menunggu seseorang datang ke kelas.
Cukup dengan berbagi payung ketika hujan.
Cukup dengan duduk di bangku yang sama.
Dan bagi Raka, mungkin semua itu sudah menjadi awal dari cerita yang ingin ia jalani lebih lama.
Satu bangku di dekat jendela.
Satu teman yang selalu membuat hari-harinya terasa berbeda.
Dan satu perasaan kecil yang tumbuh perlahan, tepat di tengah kehidupan sekolah yang sederhana.
Satu Bangku di Dekat Jendela
Pagi Senin selalu punya cara sendiri untuk membuat siswa malas datang ke sekolah. Begitu pula dengan Raka.
Ia berjalan melewati gerbang sekolah sambil menguap, satu tangan memegang tali tas, sementara tangan lainnya menggenggam roti yang belum sempat ia habiskan.
“Rak!”
Raka menoleh. Dimas, sahabatnya, berlari kecil dari arah parkiran.
“Tumben nggak telat,” kata Dimas.
“Karena gue bangun lebih pagi.”
“Jam berapa?”
“Lima.”
Dimas terdiam.
“Lima pagi?”
Raka mengangguk bangga.
“Jam lima sore.”
“Dasar.”
Mereka tertawa dan berjalan menuju kelas.
Kelas XI TKJ 2 sudah cukup ramai. Beberapa siswa sibuk mengobrol, sebagian mengerjakan tugas yang baru akan dikumpulkan, sementara yang lain masih menikmati waktu sebelum guru datang.
Raka langsung menuju tempat duduknya di dekat jendela.
Namun, ada seseorang yang sudah duduk di sana.
Seorang siswi bernama Naya.
Naya adalah salah satu murid yang cukup dikenal di kelas. Bukan karena ia paling ramai, justru sebaliknya. Ia sering duduk tenang sambil membaca buku atau mengerjakan tugas.
“Eh, ini tempat duduk gue,” kata Raka.
Naya menoleh.
“Bukannya kursinya memang kosong?”
“Iya, tapi biasanya gue duduk di sini.”
Naya melihat kursi itu, lalu kembali menatap Raka.
“Berarti sekarang kita duduk bareng.”
Raka terdiam.
“Bareng?”
“Iya. Kan mejanya panjang.”
Dimas yang berdiri di belakang Raka langsung menyenggol bahunya.
“Cie.”
“Diam.”
Naya tertawa kecil.
Sejak hari itu, Raka dan Naya sering duduk bersebelahan.
Awalnya mereka hanya berbicara tentang pelajaran.
“Nomor tiga jawabannya apa?”
“B.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Kalau salah?”
“Ya salah.”
“Terus?”
“Ya jangan salah.”
Raka hanya bisa menggeleng.
Namun, semakin lama, percakapan mereka berkembang menjadi hal-hal kecil lainnya.
Tentang makanan kantin.
Tentang guru yang sering memberikan tugas mendadak.
Tentang film yang sedang ramai dibicarakan.
Bahkan tentang cita-cita.
Suatu siang, saat jam istirahat, mereka duduk di kantin bersama beberapa teman.
Naya membeli es teh, sedangkan Raka membeli mi goreng.
“Lo nanti ikut ekskul apa?” tanya Naya.
“Belum tahu.”
“Katanya mau ikut futsal?”
“Dimas yang bilang.”
“Jadi?”
“Belum tentu.”
Naya tersenyum.
“Kalau aku ikut klub fotografi.”
“Fotografi?”
“Iya. Aku suka foto-foto.”
“Foto gue juga boleh.”
“Kenapa harus kamu?”
“Karena wajah gue cocok jadi model.”
Naya hampir tersedak minumannya.
“Percaya diri banget.”
“Namanya juga usaha.”
Mereka tertawa.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Raka mulai mengikuti latihan futsal, sementara Naya aktif dalam klub fotografi.
Kadang mereka hanya bertemu beberapa menit di koridor.
Kadang Raka melihat Naya membawa kamera melewati lapangan.
Kadang Naya melihat Raka duduk di tribun setelah latihan.
Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya, begitulah yang Raka pikirkan.
Sampai suatu sore, sekolah mengadakan persiapan acara pentas seni.
Setiap kelas harus membuat sebuah penampilan. Kelas Raka memilih pertunjukan musik sederhana.
Raka ditunjuk menjadi salah satu pemain gitar.
Naya mendapat tugas mendokumentasikan seluruh persiapan.
Selama beberapa hari, mereka sering bertemu sepulang sekolah.
Sore itu, hujan turun cukup deras.
Sebagian siswa sudah pulang. Hanya beberapa anggota panitia yang masih berada di sekolah.
Raka sedang membawa beberapa kursi ketika melihat Naya berdiri di depan aula.
“Kok belum pulang?” tanyanya.
“Masih nunggu hujan reda.”
“Bawa payung?”
Naya menggeleng.
Raka melihat payung hitam yang ia bawa.
“Ya udah, nanti bareng.”
Naya tampak ragu.
“Nggak merepotkan?”
“Enggak.”
Mereka akhirnya berjalan berdua menuju gerbang.
Payung Raka sebenarnya tidak terlalu besar. Mereka berjalan cukup dekat agar tidak terkena hujan.
Namun, suasananya terasa canggung.
Raka mencoba mencari topik pembicaraan.
“Besok latihan lagi?”
“Iya.”
“Capek?”
“Lumayan.”
“Kalau capek, istirahat.”
Naya tersenyum.
“Kamu juga.”
Raka mengangguk.
Untuk beberapa saat, mereka hanya berjalan ditemani suara hujan.
Ketika sampai di gerbang, Naya berhenti.
“Makasih, Rak.”
“Iya.”
Naya kemudian berlari kecil menuju kendaraan yang menjemputnya.
Raka berdiri sebentar di tempat.
Entah kenapa, senyum kecil muncul di wajahnya.
“Kenapa gue senyum?” gumamnya.
Dari belakang terdengar suara Dimas.
“Karena jatuh cinta mungkin.”
Raka langsung menoleh.
“Lo dari mana?”
“Dari belakang.”
“Ngapain ngikutin?”
“Memastikan sahabat gue nggak aneh-aneh.”
“Berisik.”
Dimas tertawa.
Namun sejak hari itu, Raka mulai menyadari sesuatu.
Ia mulai menunggu kehadiran Naya.
Ia senang ketika Naya duduk di sebelahnya.
Ia mencari alasan untuk mengobrol.
Dan tanpa sadar, ia sering melihat ke arah pintu kelas setiap pagi.
Sementara itu, Naya juga mulai terbiasa dengan kehadiran Raka.
Namun, keduanya tidak pernah membicarakan perasaan mereka.
Sampai suatu hari terjadi kesalahpahaman.
Pagi itu, Raka melihat Naya sedang berbicara dengan seorang siswa dari kelas lain bernama Ardi.
Mereka tampak akrab.
Ardi bahkan memberikan sebuah hadiah kecil kepada Naya.
Raka hanya melihat dari jauh.
Dimas yang berada di sampingnya berkata, “Kenapa?”
“Enggak.”
“Wajah lo bilang iya.”
Raka mengangkat bahu.
Seharian itu ia menjadi lebih pendiam.
Saat Naya bertanya tentang tugas, jawabannya singkat.
Saat Naya mengajaknya ke kantin, ia menolak.
“Kenapa?” tanya Naya.
“Lagi nggak pengin.”
Naya tampak bingung.
Hari berikutnya sama.
Hari setelahnya juga.
Akhirnya Naya tidak tahan.
Saat jam pulang, ia menghampiri Raka yang sedang membereskan tas.
“Rak.”
“Hm?”
“Aku salah apa?”
Raka berhenti memasukkan buku.
“Enggak.”
“Terus kenapa kamu berubah?”
Raka diam.
Ia sebenarnya ingin menjawab, tetapi merasa malu.
Akhirnya ia berkata, “Kemarin aku lihat kamu sama Ardi.”
Naya mengerutkan kening.
“Terus?”
“Enggak apa-apa.”
“Kalau enggak apa-apa, kenapa jadi begini?”
Raka menghela napas.
“Aku cuma mikir... mungkin kamu lebih suka ngobrol sama dia.”
Naya terdiam beberapa detik.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Ardi itu kakakku.”
Raka membeku.
“...Kakak?”
“Iya. Dia datang buat ngasih aku kamera bekas. Kamera lamanya.”
Raka menatap lantai.
Wajahnya memerah karena malu.
“Oh.”
“Cuma oh?”
“Terus harus gimana?”
Naya tersenyum.
“Ya nggak usah menjauh cuma karena salah paham.”
Raka mengangguk.
“Maaf.”
Naya menerima permintaan maaf itu.
Namun sebelum pergi, ia berkata, “Kalau ada yang bikin kamu kepikiran, tanya langsung. Jangan bikin kesimpulan sendiri.”
Raka tersenyum.
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.”
Beberapa hari kemudian, pentas seni akhirnya tiba.
Aula sekolah dipenuhi siswa. Lampu panggung menyala, musik terdengar, dan setiap kelas menampilkan pertunjukan masing-masing.
Kelas XI TKJ 2 tampil cukup baik.
Raka bermain gitar bersama teman-temannya.
Di sisi panggung, Naya sibuk mengambil foto.
Ketika pertunjukan selesai, Raka turun dari panggung.
Naya menghampirinya sambil membawa kamera.
“Tadi bagus.”
“Serius?”
“Iya.”
“Foto gue bagus?”
“Foto semua orang bagus.”
“Berarti foto gue biasa aja?”
Naya tertawa.
“Kamu tuh.”
Mereka berdiri di belakang aula yang mulai sepi.
Raka melihat beberapa foto hasil jepretan Naya.
Ada foto teman-teman mereka.
Ada foto panggung.
Ada foto guru.
Lalu Raka melihat satu foto dirinya sedang bermain gitar.
“Ini bagus,” katanya.
Naya mengangguk.
“Aku suka yang itu.”
Raka menatap foto tersebut.
“Kenapa?”
“Karena kamu kelihatan senang.”
Raka terdiam.
Kemudian ia tersenyum.
“Aku memang senang.”
“Karena tampil?”
Raka menggeleng pelan.
“Bukan cuma itu.”
Naya menatapnya.
Suasana mendadak terasa lebih tenang.
Raka sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.
Namun, ia tidak tahu bagaimana memulainya.
Akhirnya ia berkata sederhana.
“Nay, makasih ya.”
“Untuk?”
“Udah jadi teman yang baik.”
Naya tersenyum.
“Cuma teman?”
Raka terdiam.
Pertanyaan itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Naya lalu tertawa kecil.
“Bercanda.”
Raka ikut tertawa.
Tapi sebelum mereka berpisah, Raka memberanikan diri berkata,
“Kalau suatu hari aku mau ngajak kamu jalan setelah sekolah... kamu mau?”
Naya tersenyum.
“Mau.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Besok?”
“Besok.”
Raka tersenyum lebar.
“Deal.”
Hari Senin berikutnya, Raka kembali duduk di bangku dekat jendela.
Naya datang beberapa menit kemudian.
“Pagi.”
“Pagi.”
Naya meletakkan tasnya.
“Jadi nanti pulang sekolah?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
“Jangan lupa.”
“Enggak bakal.”
Bel masuk berbunyi.
Guru memasuki kelas dan semua siswa mulai bersiap.
Raka membuka buku pelajaran.
Di sampingnya, Naya juga mulai menulis.
Di luar jendela, matahari pagi menyinari halaman sekolah.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada sesuatu yang luar biasa.
Hanya dua remaja yang perlahan belajar mengenal satu sama lain.
Tentang bagaimana sebuah persahabatan bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih berarti.
Tentang bagaimana salah paham bisa diselesaikan dengan kejujuran.
Dan tentang bagaimana perasaan tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata besar.
Kadang, cukup dengan menunggu seseorang datang ke kelas.
Cukup dengan berbagi payung ketika hujan.
Cukup dengan duduk di bangku yang sama.
Dan bagi Raka, mungkin semua itu sudah menjadi awal dari cerita yang ingin ia jalani lebih lama.
Satu bangku di dekat jendela.
Satu teman yang selalu membuat hari-harinya terasa berbeda.
Dan satu perasaan kecil yang tumbuh perlahan, tepat di tengah kehidupan sekolah yang sederhana.
Apply on Freelancer →
Project sourced from Freelancer.com. Applications happen directly on the original platform — we never collect your data.